Rama Bridge

Posted in Uncategorized on August 5, 2009 by hatakehafiz

sumber:kumpulan Misteri dunia158

Adam Bridge,atau yang kerap dijuluki Rama Bridge merupakan salah satu “Mysterious Places in the World’s”. Jembatan purba misterius sepanjang 18 mil (30 Km) yang menghubungkan antara Manand Island (Srilanka) dan Pamban Island (India) ini diperkirakan telah berumur 1.000.000 tahun lebih!!

Citra dari Rama Brige sendiri sangat mudah terlihat dari atas permukaan air laut karena letaknya yang tidak terlalu dalam,yaitu hanya tergenang sedalam kira-kira 1,2 meter (jika air laut sedang surut).

Status dari jembatan tsb masih merupakan misteri hingga saat ini, menurut tafsiran para ahli,diperkirakan mungkin Rama Bridge sangat erat kaitannya dengan Epos terkenal India, Ramayana.

Srilankan Archeology Department telah mengeluarkan suatu statment yang menyebutkan usia Rama Bridge mungkin berkisar diantara 1.000.000 hingga 2.000.000 tahun,namun apakah jembatan ini benar-benar terbentuk secara alami ataukah merupakan suatu mahakarya manusia hal itu belum bisa mereka terangkan.
S.U.Deraniyagala, Direktur Jenderal Arkeologi Srilanka yang juga merupakan pengarang buku “Early Man and the Rise of Civilization in Sri Lanka: the Archaeological Evidence” mengatakan bahwa peradaban manusia telah muncul di Kaki Gunung Himalaya sekitar 2.000.000 tahun silam, walaupun menurut para sejarawan peradaban paling awal didaratan India adalah peradaban bangsa Ca, hal itu bukan merupakan suatu jaminan bahwa terdapat peradaban yang lebih tua lagi dari mereka sebelumnya.

Para sarjana menaksirkan bahwa mungkin jembatan purba ini dibangun setelah daratan Srilanka terpisah oleh India jutaan tahun silam.

Didalam Epos Ramayana,jembatan itu dibangun oleh para pasukan manusia kera dibawah pengawasan Rama. Maksud dari pembangunannya sendiri ialah sebagai tempat penyebrangan menuju Negeri Alengka dalam misi untuk menyelamatkan Dewi Shinta, dimana pada saat itu Dewi Sinta sedang berada dalam masa penculikannya oleh Raja Kerajaan Alengka,yaitu Rahwana.
Epos Ramayana,menurut Kalender Hindu seharusnya berada pada masa Tredha Yuga (menurut cakram masa evolusi hindu/ cakram Hinduism tentang Epos tersebut terbagi pada masa Sathya (1.728.000 tahun), Tredha (1.296.000 tahun), Dwapara (8.64.000 tahun) dan Kali (4.32.000 tahun).
Tahap sekarang menurut kalender mereka ialah Kali.Berarti menurut Epos tersebut, usia dari Rama Bridge berkisar 1.700.000 tahun.

Bajak laut

Posted in Uncategorized with tags , , , on August 5, 2009 by hatakehafiz

Bajak laut

Bajak laut (pirate) adalah para perampok di laut yang bertindak di luar segala hukum. Kata pirate berasal dari bahasa Yunani yang berarti ‘yang menyerang’, ‘yang merampok’. Dalam Bahasa Indonesia dan Melayu sebutan lain untuk bajak laut, lanun, berasal dari nama lain salah satu suku maritim di Indonesia dan Malaysia, Orang Laut.

Tujuan mereka tidak bersifat politik, mereka mencari keuntungan sendiri dan tidak melayani siapapun kecuali di bawah bendera Jolly Roger (bendera bajak laut). Banyak dari corsario (corsair) berubah profesi menjadi bajak laut selama periode perdamaian antara Spanyol dan Inggris.

Target utama penyerangan para bajak laut adalah sebagian besar kapal-kapal (dan juga daerah-daerah kolonial) yang berada di bawah kekuasaan Spanyol atau Portugis. Ini adalah suatu hal yang logis karena kedua kerajaan tersebut itulah yang memonopoli perdagangan antara Eropa dan Dunia Baru.

Kapal-kapal yang mengangkut emas dan perak dari Amerika merupakan sasaran empuk para bajak laut.

Namun demikian tak satupun bendera yang selamat dari kekejaman anjing-anjing laut. Raja-raja Eropa mencoba untuk berjuang melawan para pembajak dengan memasok senjata dan peralatan yang cukup pada kapal-kapalnya. Ironisnya, setiap kali diberikan kepada seorang kapten pemerintahan pada satu armada yang siap melawan pembajak — ini adalah undangan baginya untuk menyiapkan diri, dan kenapa tidak, berganti menjadi seseorang yang tadinya mau ia lawan.

Corsario

Kapal corsario (corsair) adalah kapal yang berlaut atas perintah dari seorang raja dan melakukan aksi-aksi perang melawan kepentingan kerajaan musuh (biasanya mencoba untuk melemahkan kekuasaan komersial dan kolonial).

Para corsair ini dalam kekuasannya memiliki dokumen-dokumen yang memberikan kuasa kepada kapal yang dikendalikannya untuk berbuat aksi-aksi perang tersebut.

Dokumen-dokumen tersebut dinamakan Letter of marque atau Patente de Corso. Batasan-batasan yang digariskan pada dokumen tersebut sangat kabur (tidak jelas) dan biasanya kapten-kapten corsario dan tripulasinya itulah yang memutuskan apa yang bisa mereka perbuat dan apa yang dilarang.

Kekuasaan corsario dianugerahkan oleh seorang raja, walaupun dalam prakteknya biasanya, raja mendelegasikan pada seorang gubernur.

Pada periode peperangan, delegasi corsario sering dipakai dalam ekspedisi-ekspedisi untuk melawan kepentingan musuh yang berpotensi.

Ketika ini terjadi, kapten-kapten tersebut dan tripulasinya diwajibkan untuk menyerahkan semua rampasan hartanya kepada kerajaan terkecuali sebagian kecil (yang mungkin bisa seperlima atau lebih).

Ketika kapal-kapal corsair tidak menjadi bagian dari suatu misi kerajan, mereka biasanya menyerang kapal apa saja selama ini tidak berbendera sama dengan kerajaan dari mana mereka berasal.

Mereka beraksi seperti layaknya bajak laut namun masih menyimpan hak-hak berlaut yang bersifat corso (dilindungi oleh satu kerajaan). Harta rampasan yang diperoleh dengan cara ini adalah untuk mereka, walaupun diwajibkan untuk menyerahkan satu bagian untuk pemerintah koloni dari mana mereka berasal.

Kapal-kapal corsair bisa dianggap sebagai pelabuhan aman bagi mereka yang berasal dari negara/kerajaan yang sama, dan lagi mereka mendapatkan perlindungan.

Para corsair tak dapat dihukum gantung karena alasan pembajakan karena mereka mempunyai “izin” (kuasa hukum corso) yang dikeluarkan oleh kerajaan. Kenyataannya jelas seorang corsair yang dikejar oleh musuh, tidak dapat mempercayai hal ini, karena ada kebiasaan menghukum gantung corsair musuh.

Bucanero

Definisi ini mulai dikenal pada sebagian koloni Perancis yang telah berdiri pada bagian barat koloni Spanyol (sekarang Haití). Mereka mendapatkan nama bucaneros (buccaneers), berasal dari kata Indian, bucan, yang merujuk pada tempat di mana daging diasapkan, dengan cara membakar kayu hijau di bawah beberapa tongkat dengan bentuk panggangan, yang mendapat nama barbeque.

Di bagian pulau yang tidak terhuni (bagian timur dihuni oleh orang Spanyol) terjadi reproduksi secara luar biasa hewan banteng dan sapi dan para bucanero bekerja menangkap mereka untuk nantinya dijual kulit dan daging asapnya kepada kapal-kapal yang menghargai rasa dan ketahanan dari daging asap ini.

Para bucanero hidup dalam alam bebas, tidak ada seorangpun yang memerintah atau menguasai mereka. Ini mengundang segala jenis orang yang diusir, buronan, budak, Indian pemberontak, dan orang-orang yang dikejar oleh agama.

Jumlah bucanero ini bertambah dan pada tahun 1620 mereka mulai dikejar oleh orang-orang Spanyol. Mereka memutuskan untuk berbuat perampokan kecil di laut dan mendirikan pangkalan operasi di pulau Tortuga, dekat dengan koloni Spanyol.

Pengakuan akan keberadaan mereka oleh Le Vasseur sebagai pemerintah pulau itu dan berangkat dari kepentingan riilnya, membawa mereka untuk berasosiasi dalam “Hermandad de la Costa” atau “persaudaraan daratan pantai” yang akan memunculkan asal dari filibusteros.

Filibustero

Karena di pulau Tortuga tidak terdapat buruan, para bucanero berhadapan dengan sebuah dilema untuk terus hidup: pergi dengan Canoa untuk berburu di teritori Spanyol atau mendedikasikan diri pada pembajakan.

Mereka yang memilih pilihan terakhir dinamakan filibusteros (freebooter). Kata Filibustero berasal dari bahasa Belanda Vrij Buiter (”yang merampas harta” atau dalam bahasa Inggris, freebooter).

Setelah mendapat pelajaran keras yang mereka dapatkan setelah diusir dari koloni Spanyol, para freebooter ini mengerti bahwa adalah perlu untuk bersatu jika mereka ingin melawan akan adanya kemungkinan risiko.

Kebiasaan hidup dengan kemerdekaan yang penuh, membuat mereka tidak mengizinkan untuk diperintah oleh hukum, norma dan orang-orang di atas mereka. Maka lahirlah perkumpulan persaudaraan itu. Para filibusteros ini menyerang kapal apa saja, dari kerajaan manapun, walaupun kapal-kapal spanyolah yang sering menjadi korban mereka.

Mereka seringkali menggunakan kapal kecil, sangat ringan dan mudah dikendalikan dan seringkali mereka dimodali dan didukung secara ekstra oficial oleh potensi-potensi dari Eropa dengan kepentingan untuk melemahkan perdagangan musuh.

Mereka seringkali menggagalkan perdangan antarkoloni dan didongengkan akan aktuasi-aktuasi mereka yang berani dengan senjata yang minim dan tripulasi yang sedikit, mereka menyerang galeon-galeon kapal besar yang dipersenjatai secara luar biasa, yang mengangkut emas.

Engagé

Engagé adalah kata Perancis yang artinya ‘yang terlibat’, ‘yang berkomitmen’, atau ‘yang siap bekerja’.

Seorang engagé artinya adalah seseorang bebas yang menandatangani kontrak selama 3 tahun di mana dia diwajibkan bekerja sebagai pembantu untuk orang ketiga, dengan kondisi yang sama halnya dengan perbudakan.

Ini biasanya terjadi selama 2 tahun pertama kontrak, kondisi kerjanya bagus, namun seringkali mereka diharuskan bekerja dalam kondisi yang keras selama etapa terakhir dari kontraknya yang mewajibkan mereka ditarik kembali/dikontrak lagi sebagai syarat perbaikan kondisi kerja mereka.

Hukum dan kebiasaan bajak laut
images99

Pulau Tortuga (‘kura-kura’) adalah sebuah pulau di sebelah timur laut Haiti (di mana dulu dinamakan La española bersama dengan Santo Domingo yang sekarang). Luas pulau ini 220 km², termasuk pulau yang paling penting yang dijadikan tempat berkumpulnya bucaneerss Perancis, pusat dari “Persaudaraan La costa”.

Kekejaman bajak laut sangat terkenal, begitu juga hukuman dari mereka. Salah satu darinya adalah penyeretan seseorang oleh baja rangka kapal (kerangka kapal yang dimulai dari bagian depan kapal sampai akhir). Di bagian atas kapal, seorang tahanan diikat di salah satu ujung kerangka. Di ujung kerangka yang lain dimasukkan ke dalam laut dan dibawa ke arah berlawanan di bawah kerangka kapal. Ketika ujung yang dibawa ini sampai ke bagian atas kapal (bagian belakang kapal tepatnya), si tahanan diikat lagi oleh tali ini. Untuk menghindari masuknya air laut ke mulut tahanan, mulutnya disumpal oleh lemak. Ketika perintah eksekusi diberikan, tahanan ditarik ke atas pada bagian kakinya, lalu dibiarkan jatuh ke laut, sementara beberapa orang menarik ujung yang lain ke arah berlawanan, sehingga tahanan terseret di bawah perahu sampai saat ia diangkat dari ujung kapal yang berlawanan. Operasi ini dilakukan beberapa kali. Selain ketakutan yang amat yang dialami tahanan, hukuman ini bertambah parah diakibatkan oleh penyeretan tahanan di bawah kapal yang ditutupi oleh moluscos dan kepala-kepala paku yang menyakiti badan tahanan itu.

Hukuman yang berat lainnya adalah marron. Ini terdiri dari meninggalkan seseorang di sebuah pulau padang pasir yang terpisah dari rute-rute navigasi. Orang itu akan ditinggalkan dengan sedikit air, senjata api dan sedikit peluru. Orang itu akan pasti mati kelaparan atau terluka akibat peluru (mencoba bunuh diri) ataupun terbenam saat air laut pasang bilamana ia diturunkan di sebuah pulau kecil.

Tidak dikenal siapa yang memberikan nama La Cofradía de los Hermanos de la Costa (persaudaraan) dan tidak juga diketahui siapa yang mendirikannya. Yang dapat diketahui hanyalah, mereka ada sejak para bucanneers diusir dari wilayah Spanyol tahun 1620. Sama halnya dengan perkumpulan lainnya, mereka mempunyai hukum-hukum, namun tidak tertulis. Ini lebih mengarah kepada persetujuan secara umum di mana semua berada di bawah hukum itu tepatnya untuk melindungi kebebasannya secara perorangan. Mereka terikat hanya oleh pemikiran persaudaraan. Tidak terdapat hakim maupun pengadilan, hanya sebuah dewan yang dibentuk oleh para filbusteros paling tua.

Ada empat norma utama:

* Dilarang berpikiran jelek terhadap negara (pulau di mana mereka tinggal) maupun agama.
* Dilarang kepemilikan barang secara perorangan. Ini dimaksud dengan kepemilikan tanah di pulau itu.
* Perkumpulan persaudaraan dilarang turut campur dalam kebebasan masing-masing individu. Masalah-masalah pribadi dipecahkan secara pribadi. Tak seorangpun diwajibkan ikut serta pada suatu ekspedisi bajak laut. Seseorang boleh meninggalkan perkumpulan itu kapan saja.
* Tidak menerima wanita-wanita kulit putih bebas di dalam pulau itu. Larangan ini dimaksudkan hanya untuk wanita-wanita tersebut guna menghindari pertengkaran. Hanya wanita-wanita hitam dan wanita budak boleh berada di pulau itu.

Semua saudara itu sama (dalam hak dan kewajiban) di antara mereka dan bahkan mereka mempunyai daftar ganti rugi untuk membayar bagi siapa yang terluka. Sebegitu jauhnya persaudaraan di antara mereka, sebelum mereka masuk ke dalam perkelahian, setiap bucanneer bersumpah dengan seorang rekannya dan jika salah satu dari mereka mati dalam perkelahian, yang lain menjadi penerima warisannya.

Para bajak laut tidak mengubur hartanya. Mereka telah merisikokan jiwanya untuk mendapatkan harta itu dan di antara mereka saling menyimpan harta itu di tempat di mana yang lain bisa menemukannya. Biasanya mereka menghabiskan harta itu secepat mungkin atau sampai mereka bisa memulai ekspedisi baru.

Sebelum berlabuh mereka telah menentukan berapa banyak harta yang akan diterima secara proporsional tiap pembajak. Telah ditentukan bahwa harta karun yang mereka dapatkan, segera menjadi barang umum dan selanjutnya masuk ke dalam proses pembagian.

Ditentukan hukuman yang keras bagi mereka yang berani mengambil bagian dari harta untuk dirinya sendiri (tanpa sempat masuk ke dalam proses pembagian). Dan juga ditentukan upah/hadiah bagi mereka yang pertama yang menemukan sebuah buruan atau bagi yang pertama menginjakkan kaki di kapal yang dibajak.

Biasanya, upahnya adalah kemungkinan untuk memilih bagian dari harta karun yang didapat.

Pistol-pistol adalah bagian dari harta yang paling diminati karena kegunaannya dalam perkelahian (misalnya seorang Blackbeard memakai 8 pistol yang tersebar dan terpasang di pita peluru yang tersilang di dadanya).

Alice In wonderland

Posted in Uncategorized with tags , on August 5, 2009 by hatakehafiz

Henrik sylowalice

”Alice in Wonderland” was one of the Disney’s very first ideas for a feature length motion picture. He had acquired the rights for Lewis Carroll’s book in the early thirties and in 1933 he began preparing a feature length film, where live action would be combined with animation, which was to star Mary Pickford as Alice. But when Paramount the same year announced and released their version of the book, Disney dropped the project.

In 1936, David Hall made the Mickey Mouse short “Thru the mirror”, and Disney began considering the project again, but postponed it, as the studio at that time already had two films in production. While Disney in 1938 registered the film with the MPAA, it wasn’t until after the war, in 1945, Disney finally announced that the studio would make “Alice in Wonderland”, now with Ginger Rodgers as Alice. But after seeing “Song of the South” in 1946, Disney replaced Rodgers with his new child star Luana Patten, who played Ginny in “Song of the South”, and also decided to make it an all animation film. For various reasons, Disney later replaced Patten with first Margaret O’Brien, and finally in 1948 to have only 10-year old Kathryn Beaumont play the lead.

“Alice in Wonderland” was at that time Disney’s most expensive production, a budget of $3 million, and his most problematic production. Disney’s major problem was how to translate the books somewhat unconnecting stories, its poems and its charm to the screen. An incredible amount of scenes were story boarded and over thirty songs were written. At one point, the project was so huge, that a joke at the studio suggested the final version would have a lenght of two weeks. Another problem, which Disney in his late years spoke about, was, that Alice, according to him, was a spoiled brat without a heart. Finally, Disney had originally decided to have the animations been drawn in the style of the original illustrations by John Tenniel, but after having seen tests, he decided to drop this idea, partly because it slowed the animationproces down, partly because he feared, that the style wouldn’t be identifiable with a Disney film. As a result, the final film became a series of compromises and simplifications of a few key passages.

The film premiered July 26, 1951 and was butchered by the critics. The “New Yorker” was the harshest, calling it a dreadful mockery of a classic, violence against the style of Tenniel, and that Disney attempted to hide his failure to understand a literary masterpiece with a few shiny tunes more suitable for a flea circus. Even “Life Magazine”, normally Disney strongest supporter, gave it the thumbs down. But also the audience turned their backs to the film, and for the first time ever, Disney chose to shelf a film. It wasn’t seen again until 1954, this time in an edited version on TV, and where other Disney films were re-released every sixth or seventh year, “Alice in Wonderland” was not. It remained shelved.

However in 1968 Disney released the film in a 16mm version rental version. It was subsequently re-discovered by the psychedelic generation and became a huge success because of its surrealism and its connections to the drug culture. As a result, Disney withdrew the rental version, as the studio didn’t appreciated the association. It was finally re-released in 1974, with a psychedelic poster even.

As a film, “Alice in Wonderland” is a Disney classic, but in no way amongst his major films, mainly because Disney attempted to squeeze a classic into a Disney template, where grotesque characters became stereotyped cute Disney figures, where complex passages became simplified by a cute little song, and because the production had so many problems, that the final result became incoherent and very episodic.

While children love it, adults and Disney fans should approach the film as a fantastic fiasco, as Disney’s most ambitious project and has his most flawed film.

Tentang Ebiet G Ade

Posted in Uncategorized with tags , , on August 1, 2009 by hatakehafiz

ebiet+2

ebiet_g_ade_02

Ebiet G. Ade
Hatakehafiz.wordpress.com

BIODATA

Nama Asli : Abdul Gafar Abdullah

Lahir : Wonodadi, Banyumas, Jawa Tengah, 21 April 1954

Istri : Yayuk Sugianto (menikah pada tahun 1982)

Anak : Abietyasakti Ksatria Kinasih, Adaprabu Hantip Trengginas, Byatuasa Pakarti Hinuwih,dan Segara Banyu Bening

Diskografi :

* Camellia 1 (1979)
* Camellia 2 (1979)
* Camellia 3 (1980)
* Camellia 4 (1980)
* Langkah Berikutnya (1982)
* Tokoh-Tokoh (1982)
* 1984 (1984)
* Zaman (1985)
* Isyu (1986)
* Menjaring Matahari (1987)
* Sketsa Rembulan Emas (1988)
* Seraut Wajah (1990)
* Kupu-Kupu Kertas (1995)
* Cinta Sebening Embun – Puisi-Puisi Cinta (1995)
* Aku Ingin Pulang – 15 Hits Terpopuler (1995)
* Gamelan (1998)
* Balada Sinetron Cinta (2000)
* Bahasa Langit (2001)
* In Love : 25th Anniversary (2007)

Penghargaan :

* Penyanyi kesayangan Siaran Radio ABRI (1989]]-1992)
* BASF Awards (1984-1988)
* Penyanyi terbaik Anugerah Musik Indonesia (1997)
* Planet Muzik Awards dari Singapura

BIOGRAFI

Terlahir dengan nama Abdul Gafar Abdullah. Ebiet akrab dengan lingkungan seniman muda Yogyakarta, 1971. Ebieth mengawali karier musiknya pada seputar tahun 1975, pada saat usianya baru 20-an tahun. Melalui album Camellia I yang terjual lebih dari dua juta copies (1979), nama Ebiet G. Ade menjadi dikenal sebagai pemusik balada yang juga pencipta lagu dan konseptor aransemen.

Setelah lulus SD, Ebiet masuk PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) Banjarnegara. Sayangnya ia tidak betah sehingga pindah ke Yogyakarta. Sekolah di SMP Muhammadiyah 3 dan melanjutkan ke SMU Muhi. Di sana ia aktif di PII (Pelajar Islam Indonesia). Namun, ia tidak dapat melanjutkan kuliah ke Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada karena tiadanya biaya. Ia lebih memilih bergabung dengan grup vokal ketika ayahnya yang pensiunan memberinya opsi: Ebiet masuk FE UGM atau kakaknya yang baru ujian lulus jadi sarjana di Universitas Jendral Soedirman, Purwokerto.

Nama Ebiet didapatnya dari pengalamannya kursus bahasa Inggris semasa SMA. Gurunya orang asing, biasa memanggilnya Ebiet, mungkin karena mereka mengucapkan A menjadi E. Terinspirasi dari tulisan Ebiet di bagian punggung kaos merahnya, lama-lama ia lebih sering dipanggil Ebiet oleh teman-temannya. Nama ayahnya digunakan sebagai nama belakang, disingkat AD, kemudian ditulis Ade, sesuai bunyi penyebutannya, Ebiet G. Ade. Kalau dipanjangkan, ditulis sebagai Ebiet Ghoffar Aboe Dja’far.

Sering keluyuran tidak keruan, dulu Ebiet akrab dengan lingkungan seniman muda Yogyakarta pada tahun 1971. Tampaknya, lingkungan inilah yang membentuk persiapan Ebiet untuk mengorbit. Motivasi terbesar yang membangkitkan kreativitas penciptaan karya-karyanya adalah ketika bersahabat dengan Emha Ainun Nadjib, Eko Tunas (cerpenis), dan E.H. Kartanegara (penulis). Malioboro menjadi semacam rumah bagi Ebiet ketika kiprah kepenyairannya diolah, karena pada masa itu banyak seniman yang berkumpul di sana. (penyair),

Meski bisa membuat puisi, ia mengaku tidak bisa apabila diminta sekedar mendeklamasikan puisi. Dari ketidakmampuannya membaca puisi secara langsung itu, Ebiet mencari cara agar tetap bisa membaca puisi dengan cara yang lain, tanpa harus berdeklamasi. Caranya, dengan menggunakan musik. Musikalisasi puisi, begitu istilah yang digunakan dalam lingkungan kepenyairan, seperti yang banyak dilakukannya pada puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Beberapa puisi Emha bahkan sering dilantunkan Ebiet dengan petikan gitarnya. Walaupun begitu, ketika masuk dapur rekaman, tidak sebiji pun syair Emha yang ikut dinyanyikannya. Hal itu terjadi karena ia pernah diledek teman-temannya agar membuat lagu dari puisinya sendiri. Pacuan semangat dari teman-temannya ini melecut Ebiet untuk melagukan puisi-puisinya.

Periode tahun 1979-1983, beberapa album rekaman Ebiet berhasil memperoleh penghargaan BASF Awards , AMI Awards, dan Planet Muzik Awards di Singapura untuk kategori musik Country/Balada, satu segmen musik yang termasuk sempit ruang dengarnya.

HUTAN MANGROVE

Posted in Uncategorized with tags , on August 1, 2009 by hatakehafiz

Hutanmangrove

Mangrove berasal dari kata mangue/mangal (Portugish) dan grove (English). Secara umum hutan mangrove dapat didefinisikan sebagai suatu tipe ekosistem hutan yang tumbuh di suatu daerah pasang surut (pantai, laguna, muara sungai) yang tergenang pasang dan bebas pada saat air laut surut dan komunitas tumbuhannya mempunyai toleransi terhadap garam (salinity) air laut.

Tumbuhan yang hidup di ekosistem mangrove adalah tumbuhan yang bersifat halophyte, atau mempunyai toleransi yang tinggi terhadap tingkat keasinan (salinity) air laut dan pada umumnya bersifat alkalin.

Hutan mangrove di Indonesia sering juga disebut hutan bakau. Tetapi istilah ini sebenarnya kurang tepat karena bakau (rhizophora) adalah salah satu family tumbuhan yang sering ditemukan dalam ekosistem hutan mangrove.

Hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di muara sungai, daerah pasang surut atau tepi laut. Tumbuhan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut. Umumnya mangrove mempunyai sistem perakaran yang menonjo yang disebut akar nafas (pneumatofor). Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin oksigen atau bahkan anaerob.
Hutan mangrove juga merupakan habitat bagi beberapa satwa liar yang diantaranya terancam punah, seperti harimau sumatera (Panthera tigris sumatranensis), bekantan (Nasalis larvatus), wilwo (Mycteria cinerea), bubut hitam (Centropus nigrorufus), dan bangau tongtong (Leptoptilus javanicus, dan tempat persinggahan bagi burung-burung migran.

Beberapa jenis mangrove yang terkenal:
– Bakau (Rhizopora spp.)
– Api-api (Avicennia spp.)
– Pedada (Sonneratia spp.)
– Tanjang (Bruguiera spp.)

Jika hutan mangrove hilang :
+ abrasi pantai
+ dapat mengakibatkan intrusi air laut lebih jauh ke daratan
+dapat mengakibatkan banjir
+ perikanan laut menurun
+sumber mata pencaharian penduduk setempat berkurang

Peran dan manfaat hutan mangrove :

> pelindung alami yang paling kuat dan praktis untuk menahan erosi pantai.

> menyediakan berbagai hasil kehutanan seperti kayu bakar, alkohol, gula, bahan penyamak kulit, bahan atap, bahan perahu, dll.

> mempunyai potensi wisata

> sebagai tempat hidup dan berkembang biak ikan, udang, burung, monyet, buaya dan satwa liar lainnya yang diantaranya endemik.

Serengeti National Park

Posted in Uncategorized with tags , , on July 31, 2009 by hatakehafiz

The Serengeti ecosystem is a geographical region located in north-western Tanzania and extends to south-western Kenya between latitudes 1 and 3 S and longitudes 34 and 36 E. It spans some 30,000 km2.

The Serengeti hosts the largest and longest overland migration in the world, a semi-annual occurrence. This migration is one of the ten natural travel wonders of the world.

The region contains several national parks and game reserves. Serengeti is derived from the Maasai language, Maa; specifically, “Serengit” meaning “Endless Plains”

Approximately 70 larger mammal and some 500 avifauna species are found there. This high diversity in terms of species is a function of diverse habitats ranging from riverine forests, swamps, kopjes, grasslands and woodlands. Blue Wildebeests, gazelles, zebras and buffalos are some of the commonly found large mammals in the region.

Around October, nearly 2 million herbivores travel from the northern hills toward the southern plains, crossing the Mara River, in pursuit of the rains. In April, they then return to the north through the west, once again crossing the Mara River. This phenomenon is sometimes called the Circular Migration. Over 250,000 wildebeest alone will die along the journey from Tanzania to Masai Mara Reserve in upper Kenya, a total of 500 miles. Death is often caused by injury, exhaustion, or predation. The migration is chronicled in the 1994 documentary film, Africa: The Serengeti.

History and ecology
A young Maasai man (moran or warrior) walks into the Serengeti with the Ngorongoro Highlands as a backdrop.

Much of the Serengeti was known to outsiders as Maasailand. The Maasai were known as fierce warriors, and lived alongside most wild animals with an aversion to eating game and birds, subsisting exclusively on their cattle. Their strength and reputation kept the newly arrived Europeans from exploiting the animals and resources of most of their land. A rinderpest epidemic and drought during the 1890s greatly reduced the numbers of both Maasai and animal populations. Poaching and the absence of fires, which had been the result of human activity, set the stage for the development of dense woodlands and thickets over the next 30–50 years. Tsetse fly populations now prevented any significant human settlement in the area. Fire, elephants, and wildebeest were influential in determining the current character of the Serengeti. By the 1960s, as human populations increased, fire, either intentionally set by the Maasai to increase area available for pasture, or accidentally, scorched new tree seedlings. Heavy rainfall encouraged the growth of grass, which served as fuel for the fires during the following dry seasons. Older Acacias, which live only 60 to 70 years, began to die. Initially elephants, which feed on both young and old trees, had been blamed for the shrinking woodlands. But experiments showed that other factors were more important. Meanwhile, elephant populations were reduced from 2,460 in 1970 to 467 in 1986 by poaching. By the mid 1970s wildebeest and African buffalo populations had recovered, and were increasingly cropping the grass, reducing the amount of fuel available for fires. The reduced intensity of fires has allowed Acacia to once again become established,.

Maasailand now has East Africa’s finest game areas. The governments of Tanzania and Kenya maintain a number of Protected Areas: parks, conservation areas, game reserves, etc., which give legal protection to over 80% of the Serengeti.

Ol Doinyo Lengai, the only active volcano in the area of the Serengeti, is the only volcano which still ejects carbonatite lavas. This material, upon exposure to air, changes from black to white and resembles washing soda. A thick layer of ash can turn into a calcium rich hardpan as tough as cement after rained upon. Tree roots cannot penetrate this layer, and the essentially treeless plains of the Serengeti, which lie to the west and down wind of Ol Doinyo Lengai, are the result.

Firehouse Band

Posted in Uncategorized on July 31, 2009 by hatakehafiz

FireHouse is an American hard rock band formed in Charlotte, North Carolina in 1989. The band reached stardom during the early 1990s with hit singles like “Don’t Treat Me Bad” and “All She Wrote”, as well as their signature ballads “I Live My Life for You”, “Love of a Lifetime”, and “When I Look Into Your Eyes”. At the 1992 American Music Awards, FireHouse won the award for Best New Hard Rock/Metal Band. They were chosen over Nirvana and Alice in Chains.

Despite diminishing success in the United States as the decade progressed, the band remained very popular in Asia, mainly in countries like Japan, Thailand, and Singapore. FireHouse continued to release new material throughout the late 1990s and into the early 2000s, most of which has successfully charted in Japan. The band has also continued to tour internationally as of 2007, having participated twice in the annual Rock Never Stops Tour with other bands of the 1980s. FireHouse is estimated to have sold 7 million albums worldwide since their debut.

Originally composed of vocalist C.J. Snare, guitarist Bill Leverty, drummer Michael Foster, and bassist Perry Richardson, the band has maintained its original members with the exception of Richardson,who departed in 2000 due to conflict. Richardson was replaced three times before current bassist Allen McKenzie was given the position in 2004