WS Rendra

w.s_rendra_015

Biografi :

Willibrordus Surendra Broto Rendra atau populer dengan nama W.S. Rendra lahir di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935. Ia dikenal sebagai sastrawan ternama yang mendapat julukan ‘si Burung Merak’. Kabarnya, inisial W.S berubah menjadi Wahyu Sulaiman, setelah Rendra menjadi seorang muslim.

Rendra mulai mengenal sastra saat kuliah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Almarhum Mbah Surip, seniman nyentrik yang merupakan sahabat Rendra, menyebut Rendra dengan sebutan ‘si Burung Merak Nusantara’.

Kiprahnya diawali dengan mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada 1967 dan juga Bengkel Teater Rendra di Depok, sepulangnya ia dari Amerika Serikat. Selain juga membintangi sejumlah pertunjukan teater, yang di antaranya Orang-orang di Tikungan Jalan, SEKDA, Mastodon dan Burung Kondor, Hamlet, Macbeth, Oedipus Sang Raja, Kasidah Barzanji dan Perang Troya Tidak Akan Meletus.

Rendra yang semenjak kuliah telah aktif menulis cerpen dan esai di berbagai majalah itu telah menulis ratusan cerpen, sajak dan lagu.

Bahkan bersama Yati Octavia, Rendra pernah membintangi film remaja YANG MUDA YANG BERCINTA, meski film tersebut pernah dilarang beredar karena alasan politis.

Pada 6 Agustus 2009, Rendra dipanggil Yang Maha Kuasa. Setelah sebelumnya sempat dirawat di RS Harapan Kita dan RS Mitra Keluarga, Depok akibat komplikasi, akhirnya ia menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Jenazahnya disemayamkan di rumah duka, Kompleks Pesona Kayangan Depok, Blok AV No. 5. Dan rencananya, akan dimakamkan di Bengkel Teater miliknya di Depok, Jawa Barat pada Jumat (07/08/09) selepas sholat Jumat.

Rendra pernah menikah tiga kali. Dari istri pertama ia dikaruniai 5 anak, Theodorus Setya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Sammuel Musa, dan Clara Sinta. Dari istri keduanya, ia mendapat 4 anak, Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati. Sedangkan dari istri ketiganya ia mendapat 2 anak, Isaias Sadewa dan Maryam Supraba.

Penghargaan

* Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan , Yogyakarta (1954)
* Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956)
* Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970)
* Hadiah Akademi Jakarta (1975)
* Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976)
* Penghargaan Adam Malik (1989)
* The S.E.A. Write Award (1996)
* Penghargaan Achmad Bakri (2006).

[sunting] Kontroversi pernikahan, masuk Islam dan julukan Burung Merak

Baru pada usia 24 tahun, ia menemukan cinta pertama pada diri Sunarti Suwandi. Dari wanita yang dinikahinya pada 31 Maret 1959 itu, Rendra mendapat lima anak: Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Klara Sinta. Satu di antara muridnya adalah Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat, putri darah biru Keraton Yogyakarta, yang bersedia lebur dalam kehidupan spontan dan urakan di Bengkel Teater. Tugas Jeng Sito, begitu panggilan Rendra kepadanya, antara lain menyuapi dan memandikan keempat anak Rendra-Sunarti.

Ujung-ujungnya, ditemani Sunarti, Rendra melamar Sito untuk menjadi istri kedua, dan Sito menerimanya. Dia dinamis, aktif, dan punya kesehatan yang terjaga, tutur Sito tentang Rendra, kepada Kastoyo Ramelan dari Gatra. Satu-satunya kendala datang dari ayah Sito yang tidak mengizinkan putrinya, yang beragama Islam, dinikahi seorang pemuda Katolik. Tapi hal itu bukan halangan besar bagi Rendra. Ia yang pernah menulis litani dan mazmur, serta memerankan Yesus Kristus dalam lakon drama penyaliban Cinta dalam Luka, memilih untuk mengucapkan dua kalimat syahadat pada hari perkawinannya dengan Sito, 12 Agustus 1970, dengan saksi Taufiq Ismail dan Ajip Rosidi. Setelah menjadi muslim namanya menjadi Wahyu Sulaeman Rendra.

Peristiwa itu, tak pelak lagi, mengundang berbagai komentar sinis seperti Rendra masuk Islam hanya untuk poligami. Terhadap tudingan tersebut, Rendra memberi alasan bahwa ketertarikannya pada Islam sesungguhnya sudah berlangsung lama. Terutama sejak persiapan pementasan Kasidah Barzanji, beberapa bulan sebelum pernikahannya dengan Sito. Tapi alasan yang lebih prinsipil bagi Rendra, karena Islam bisa menjawab persoalan pokok yang terus menghantuinya selama ini: kemerdekaan individual sepenuhnya. Saya bisa langsung beribadah kepada Allah tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Sehingga saya merasa hak individu saya dihargai, katanya sambil mengutip ayat Quran, yang menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher seseorang.

Toh kehidupannya dalam satu atap dengan dua istri menyebabkan Rendra dituding sebagai haus publisitas dan gemar popularitas. Tapi ia menanggapinya dengan ringan saja. Seperti saat ia menjamu seorang rekannya dari Australia di Kebun binatang Gembira Loka, Yogyakarta. Ketika melihat seekor burung merak berjalan bersama dua betinanya, Rendra berseru sambil tertawa terbahak-bahak, Itu Rendra! Itu Rendra!. Sejak itu, julukan Burung Merak melekat padanya hingga kini. Dari Sitoresmi, ia mendapatkan empat anak: Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati

Sang Burung Merak kembali mengibaskan keindahan sayapnya dengan mempersunting Ken Zuraida, istri ketiga yang memberinya dua anak: Isaias Sadewa dan Maryam Supraba. Tapi pernikahan itu harus dibayar mahal karena tak lama sesudah kelahiran Maryam, Rendra menceraikan Sitoresmi pada 1979, dan Sunarti pada tahun 1981.

Sumber:Wikipedia , Kapanlagi.com

2 Responses to “WS Rendra”

  1. Wah inspirasi peer nieh

  2. jo bales komen aing awwas siah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: