Ikan Duyung

SEJAK awal zaman, agaknya, samudra telah mempersembahkan pelbagai riwayat khayali kepada manusia. Tidak terhitung dongeng yang menampilkan naga laut, gurita raksasa, kurcaci, dewa-dewi lautan, dan aneka jenis hantu yang tidak tercantum dalam kitab biologi mana pun juga. Namun, di antara tokoh-tokoh dalam arsip hikayat itu, tidak satu pun mampu menandingi kemasyhuran duyung. Konon sejak manusia turun ke laut, cerita tentang makhluk setengah-manusia-setengah-ikan itu sudah memenuhi khazanah sahibulkisah. Duyung bahkan lebih populer, dan dianggap lebih “realistis”, ketimbang ikan terbang. “Cerita rakyat mengenai ikan duyung tersebar ke seantero penjuru dunia dan bersifat purba,” tulis Carrol B. Fleming dalam majalah Smithsonian Juni tahun silam. Feming adalah penulis free-lance untuk masalah-masalah laut. Setiap bangsa, bahkan mungkin suku bangsa, memiliki perbendaharaan istilah sendiri mengenai makhluk ajaib itu. Di antara pelbagai nama itu terdapat Siren, Nixy, Kelpy, Morgan, Triton, Nereid, dan – tentu saja – duyung. Ceritanya sendiri malah jauh lebih kaya ketimbang perbendaharaan istilah itu. Ada puluhan dongeng yang mengisahkan duyung-duyung jelita, yang konon suka memperkenalkan kepada para kekasihnya keceriaan alam di dasar samudra. Dongeng lain menyebut-nyebut pula duyung buas dan raksasa, yang selalu bercita-cita merenggut dan memangsa korbannya di lautan dalam. Umumnya duyung digambarkan memiliki rambut bergelombang keemasan, dengan tubuh dan sisik ikan dari tengah-tengah badan ke bawah. Seperti layaknya semua makhluk folkloris, tiap kelompok duyung diceritakan memiliki sifat dan habitat masing-masing. Tapi ada ciri umum yang menandai hampir semua duyung perempuan. Mereka biasanya digambarkan memegang cermin di satu tangan dan sisir di tangan lain. Mengenai ekor, rupanya terdapat perbedaan versi. Kadang-kadang digambarkan seperti ekor belut, tapi tak jarang mirip buntut ular. Hanya, dalam seluruh cerita mengenai duyung, makhluk misterius itu selalu digambarkan memiliki tubuh yang menggairahkan. Dan selalu menghilang dalam sekejap mata. Dikisahkan pula, satu-satunya jalan bagi mereka untuk memperoleh wujud manusia seutuhnya ialah perkawinan dengan penghuni daratan. Banyak dongeng mengenai “perkawinan campuran” ini. Mulai dari cerita drama dan balet Undine sampai karya Hans Christian Andersen, Duyung Kecil. Kadang-kadang, suara duyung digambarkan sama menariknya dengan wajahnya yang cantik. Banyak cerita tentang nyanyian duyung yang konon mampu menyeret kapal ke ujung karang, atau membujuk para pelaut terjun ke kerajaan dasar samudra. Kisah orang baik-baik yang menjadi rusak binasa oleh rayuan duyung pun merupakan salah sebuah tema. Tetapi William Butler Yeats, penyair besar awal abad ke-20, mengambil sikap yang agak “liberal”. Dalam syairnya, Duyung, Yeats melukiskan makhluk fantasi itu menjadi lebih manusiawi, lengkap dengan sifatnya yang pelupa dan mudah mabuk kepayang: Seekor duyung menemukan jejaka sedang berenang Mengambilnya untuk dimiliki Didekapkannya tubuh itu ke tubuhnya sendiri la tertawa dan tenggelam ke bawah Lupa oleh pesona kebahagiaan Bahwa para pencinta pun bisa tenggelam. Legenda selalu tercampur aduk, saling bertukar tersebar, dan ditambahi di sana-sini dalam waktu yang cepat. Karena itu, usaha melacak “silsilah duyung” hampir mustahil. Duyung pertama, agaknya, ialah Oannes, dewa manusia dalam mitologi Babilonia. Pada awal penampilannya, Oannes yang baik hati muncul dalam wujud manusia, mengenakan topi berbentuk kepala ikan, dan memakai jubah yang juga dari kulit ikan. Pasangan Oannes ialah Atargatis, dewi bulan, yang juga dikenal sebagai Derceto, dan disembah oleh bangsa-bangsa Syria, Filistin, dan Israel. Atargatis merupakan dewi ikan generasi pertama. Pengarang Yunani, Lucian, pada abad ke-2 menulis tentang Atargatis sesuai dengan gambar Punisia yang disaksikannya: “Setengah badan ke atas, ia berbentuk wanita. Dari pinggang sampai ke bawah, tak ubahnya seekor ikan.” Sebagai dewi bulan, Atargatis memiliki banyak hal yang lebih dari sekadar profil ikan. Ia selalu dihubungkan dengan perangkat malam yang serba misterlus dan dengan setiap pergantian dan perubahan bulan. Iuga dilengkapi dengan daya pesona yang keramat, keanggunan, kecantikan, tetapi juga kebengisan, dan cinta yang tak pernah sampai. Beberapa di antara ciri dan perwatakan itu masih diwarisi para putri duyung dari generasi mutakhir. Atargatis secara umum dianggap sebagai pendahulu dewi Yunani Aphrodites, yang bangkit dari busa dalam sebuah kerang laut. Dewi asmara berambut panjang ini selalu digambarkan memegang cermin, dan akrab dengan alam segara. Siren, kelompok legendaris Yunani lainnya, juga punya ciri-ciri tertentu dalam prototipe duyung. Jembangan-jembangan Yunani dari abad ke-5 Sebelum Masehi memperlihatkan Siren sebagai makhluk serupa burung, memiliki sayap dan cakar, tapi berkepala perempuan. Nyanyian mereka yang merayu mampu mengaramkan para pelaut ke dasar segara. Menurut mitologi, hanya Orpheus dan Odysseus yang pernah mendengar nyanyian duyung, tapi berhasil menyelamatkan diri dari bencana. Penyair legendaris Orpheus konon melawan nyanyian itu dengan kecapinya. Sedangkan Odysseus menambatkan dirinya ke tiang agung kapal, sehingga selamat dari daya tarik yang bisa menyeretnya ke dalam air. Anak buah kapal konon menyumbat telinga mereka dengan lilin lebah. Mereka tidak mendengar nyanyian itu dan berhasil berdayung melewati gerombolan peri duyung itu bagaikan orang tak sadar. Pada mulanya Siren digambarkan lebih dekat dengan wujud burung ketimbang wujud ikan. Tapi, lama-kelamaan, dongeng Siren makin selalu berhubungan dengan kisah pelayaran. Dan kini Siren nyaris sinonim dengan ikan duyung. Melalui dongeng berabad-abad, ia dilukiskan tidak hanya berbulu, melainkan juga bersirip. Mereka terkenal sebagai para penyanyi yang memabukkan. Namun ada satu faktor yang membuat duyung lebih terkenal ketimbang Siren. Siren, bagaimanapun, tetap hanya makhluk yang mengisi buku cerita dan mitologi. Sebaliknya duyung benar-benar merupakan realitas – kendati tidak dalam wujud seperti yang didongengkan itu. Para sejarawan dan penjelajah naturalis dari generasi pertama sudah meninggalkan pelbagai catatan mengenai yang terakhir itu. Gaius Plinius Secundus, pejabat dan pengarang Romawi yang hidup pada tahun 23 sampai 79, agaknya merupakan naturalis pertama yang melukiskan duyung secara mendetail. Dalam karya monumentalnya, Sejarah Alam, terbit pada abad ke-1, penulis yang juga dijuluki “Pliny yang Lebih Tua” itu mengatakan, “Adapun duyung yang bernama Nereid bukanlah dongeng semata-mata. Lihatlah bagaimana para pelukis menggambarkannya, maka demikianlah mereka pada dasarnya. Hanya saja, tubuh mereka kasap dan bersisik, bahkan pada bagian yang mirip wujud manusia perempuan.” Siren dari zaman pra-Kristen kemudian kerap pula berbaur dengan lambang-lambang yang menghiasi gereja. Tak jarang kita temukan pilar gereja tertentu bertatahkan hiasan yang antara lain menggambarkan manusia dengan buntut ikan. Gambaran semacam itu bahkan bisa ditemukan, kadang-kadang, pada lukisan atau ornamen di bangku gereja. Pada Injil Nuremberg, 1943, tercantum reproduksi cukilan kayu yang menggambarkan bahtera Nabi Nuh. Di situ tampak duyung lelaki, duyung perempuan, dan makhluk setengah anjing setengah ikan, entah apa namanya. Yang menarik, duyung dipakai pula sebagai simbol usaha menyesatkan iman Kristen. Cerita mengenai perjalanan Odysseus, misalnya, juga dimanfaatkan kalangan gereja sebagai kias akan keteguhan manusia melawan godaan. Clement dari Aleksandria, dalam karyanya Khotbah kepada Kaum Kafir, secara dramatis menyerukan: “Jangan terbujuk oleh seorang wanita dengan rambut tergerai. Jangan sampai kehilangan kesadaranmu. Berlayarlah terus, lewati nyanyian yang memabukkan itu, nyanyian yang akan menyeret engkau ke kerajaan maut. Bangkitkan kemauanmu, maka engkau akan terhindar dari kebinasaan.” Duhai. Dalam satu hal, gereja seolah-olah membiarkan hidupnya dongeng duyung, hingga pada saat berbagai perjalanan mulai membangkitkan minat manusia akan negeri-negeri baru dan hewan-hewan yang belum dikenal. Sekawanan duyung digambarkan menemani perjalanan para penjelajah lautan yang pertama. Duyung bahkan tercatat dalam jurnal pelayaran Christopher Columbus, 1492. Columbus menulis mengenai salah seorang pelautnya: “la melihat tiga duyung, yang meloncat sangat tinggi di atas permukaan laut. Tetapi ketiga duyung itu tidaklah secantik yang sering digambarkan. Dalam beberapa hal, wajah mereka memang menampilkan citra manusia.” Memang, selalu terdapat perbedaan antara gambaran duyung yang diceritakan para naturalis serta para nakhoda dan duyung yang dilukiskan di dalam syair. Kesusasteraan umumnya selalu berbungabunga bila melukiskan duyung. Bandingkanlah, umpamanya, duyung dalam karya Shakespeare, Impian di Tengah Musim, dengan “Duyung Amboina” yang muncul dalam pelbagai kitab sejarah alam pada awal 1700-an. Kendati duyung Amboina dilukiskan dalam warna eksotis berkilauan, ia tetap seekor (atau seorang?) hantu. Dalam lukisan asli berwarna, yang dibuat Samuel Fellours dan disiarkan pada 1717, duyung Amboina itu digambarkan dengan kulit berwarna tembaga. Ada cahaya kehijauan pada rumbai hula-hula yang menyerupai sirip di sekeliling pinggang. Ekornya biru, panjang, dan tampak lentur. Lukisan naif itu dibubuhi keterangan tertulis: “Maka seekor monster yang menyerupai Siren tertangkap dekat Pulau Borne (Borneo? Red.).. . di kawasan Amboine (Ambon? Red.). Panjangnya 59 inci, dan wujudnya seperti ular. Ia kemudian ditempatkan di daratan selama empat hari dan tujuh jam, dalam sebuah jembangan berisi air. Dari saat ke saat ia mengeluarkan suara seperti cericit tikus. Meski diberi ikan kecil, kerang, ketam, udang, dan lain-lain, ia tak mau makan. Setelah mati, keluar cairan dari perutnya.” Binatang malang yang mengeluarkan suara tikus itu tentu tidak bisa dibandingkan dengan visi Shakespeare dalam Impian di Tengah Musim, ketika Oberon dilukiskan Mendengar seekor duyung di punggung lumba-lumba Menggumamkan nyanyian merdu dan menghembuskan napas teratur Dan laut yang ganas menjadi jinak oleh nyanyiannya Bintang-gemintang mabuk dan terlepas dari garis edarnya. Perbedaan gambaran itulah yang, antara lain membangkitkan perasaan skeptis terhadap duyung. Terutama pada awal abad ke-18. Ketika Erik Pontoppidan sibuk mencari teman sepaham untuk mendiskusikan genus duyung dalam Sejarah Alam Norwegia, ia sama sekali menyisihkan semua cerita rakyat mengenai hewan ajaib itu. Ia mengeluh dan mengecam orang-orang yang sudah mencampurkan fiksi ke dalam realitas. “Ketika mereka mengatakan bahwa duyung memiliki suara yang merdu, hanya sedikit orang berakal yang sudah menerima keterangan itu sebagai kenyataan. Bahkan, dengan segala tetek-bengek yang menakjubkan itu, keragu-raguan terhadap eksistensi duyung akhirnya makin besar,” kata Pontoppi dan (1698-1764). Uskup dan penulis masalah teologi berkebangsaan Denmark-Norwegia itu menyertakan keterangan setebal delapan folio untuk penyesalannya terhadap “pemalsuan gambaran duyung”. Pada pertengahan abad ke-19, berpuluh-puluh “duyung” muncul di London. Konon para pengusaha pertunjukan membelinya dari nelayan Jepung, entah di perairan mana. Makhluk itu digambarkan sebagai jenis yang hampir punah, dan berwujud setengah ikan setengah kera. Setiap ekor disertai “sejarah penangkapan” yang selalu terdengar hebat dan mengesankan. Ditiupkan pula, seekor duyung sampai berharga ribuan dolar. Salah satu duyung paling terkenal – dan paling menguntungkan – dari zaman itu adalah Duyung Feejee. Mula-mula duyung ini dipertunjukkan di sebuah kedai kopi di London. Kemudian dibawa ke Broadway oleh Phineas Taylor Barnum (1810-1891), 1842. Barnum adalah tokoh showbiz legendaris yang antara lain telah memopulerkan gajah raksasa Jumbo (TEMPO, 24 September 1983). Begitu populernya atraksi duyung itu hingga kemudian dipindahkan ke Museum Amerika milik Barnum di New York. Di tempat baru ini, menurut Beatrice Phillpotts dalam bukunya, Duyung, “Feejee menaikkan pendapatan Museum hampir tiga kali lipat, dalam bulan pertama saja.” Walaupun demikian, tidak semua duyung Zaman Victoria tampil sebagai hewan aneh yang sekadar meramaikan karnaval. Banyak pula duyung perempuan yang menghiasi pelbagai karya seni. Kisah-kisah romantis abad ke-19 riuh rendah dengan riwayat asmara putri duyung. Gejala ini, bersamaan dengan minat umum terhadap kesenian rakyat dan kerinduan pada zaman klasik pra-Raphael, menambahkan sejumlah citra baru kepada perbendaharaan perduyungan. Beberapa duyung digambarkan memiliki kecantikan yang berbisa, lainnya dengan wujud tak bercela. Keanekaan lukisan itu bisa dilihat pada karya-karya Herbert Draper dan John William Waterhouse, atau seniman Swiss Arnold Bocklin. Syair-syair mengenai duyung lahir pula dari tangan Tennyson, sementara seniman pra-Raphael, seperti Edward Burne-Jones dan William Morris, memperluas “kampanye duyung” dalam bentuk hiasan kertas pelapis dinding alias wallpaper. Ilustrator terkenal Arthur Rackham dan Edmund Dulac juga merancang peri laut untuk karya-karya Shakespeare dan Wagner. Pelukis Edvard Munch dan Gustav Klimt, dalam pada itu, mengangkat duyung yang romantis itu ke tingkat yang lebih realistis secara psikologis. Zaman post-Freudian memberi tempat lebih terpandang kepada duyung. Di sana-sini ia malah tampil sebagai tak kurang dari simbol kebebasan politik dan seks. Para seniman surealis kemudian ikut pula menyemarakkan tamasya duyung. Mereka menemukan, betapa makhluk berambut ikal dan berekor panjang ini memberi kemungkinan sangat luas untuk menumbuhkan impian. Lewat tangan mereka, peri duyung bisa hadir di jalan-jalan raya yang lengang, dengan bulan mengambang di langit, cahaya dan sinar magis, kekuatan gaib, kesepian, dan rindu yang tak tertahankan. Pada sisi lain, duyung juga muncul secara “merakyat”. Ada asbak berhias gambar duyung. Ada mangkuk sup bertatahkan lukisan duyung. Ada pula berbagai film berkisahkan duyung. Malah tahun ini, kalau tak ada aral melintang, Studio Walt Pisney akan mengedarkan film baru dengan tema duyung, Splash! Daya hidup legenda duyung sungguh luar biasa. “Mungkin tak ada satu negeri pun di dunia ini yang tidak mengenal duyung dalam folklornya,” tulis Carrol B. Fleming. Kenyataan ini kadang-kadang menerbitkan pikiran tertentu pada kaum naturalis. Siapa tahu, cerita yang sangat umum dan luas itu mulanya terbit hanya dari perasaan melihat sejenis makhluk setengah-ikan-setengah-manusia di kejauhan. Dugaan ini didasarkan pada banyaknya binatang laut yang memang memungkinkan fantasi berkembang: lembu laut dari ordo Sirenia, anjing laut, dan . . . ikan duyung sendiri, yang nama ilmiahnya sungguh tak sedap: Dugong Dugon. Pelbagai binatang itu memang jauh dari rupawan. Juga tak pernah enenggelamkan kapal, atau mencederai pelaut. Toh ciri dan wataknya sering dihubungkan dengan duyung dongengan. Dari semua jenis binatang itu, manatee mungkin yang terbesar. Lembu laut ini lebih gede dari manusia dewasa, tak berbulu, dan memiliki sepasang tetek yang posisinya sama dengan buah dada wanita. Dugong- atau ikan duyung – sebenarnya sangat mirip dengan manatee itu. Kedua- makhluk ini konon gemar sekali menggendong bayi dan mengajaknya jalan-jalan ke permukaan laut, sehingga mudah ditafsirkan “bertingkah laku manusiawi”. Tambahan pula, banyak perangai mereka yang menerbitkan pelbagai cerita. Dugong, konon, biasa menitikkan air mata bila diangkat ke darat. Di negeri kita sendiri, beberapa daerah percaya betul bahwa air mata duyung mengandung khasiat besar, terutama untuk memikat anak perawan. Dugong juga mengeluarkan suara. Tetapi harus juga diingat, penyelidikan belakangan ini menemukan sejumlah mamalia air yang memang pintar “menyanyi”. Misalnya ikan paus. Nyanyian itu sendiri belum bisa ditafsirkan sepenuhnya – dan belum ada jaminan bahwa suara itu betul-betul ungkapan kesedihan. Anjing laut, yang seluruhnya terdiri dari 34 jenis, juga sering mempermainkan pemandangan para pelaut. Di samudra luas, apalagi pada malam hari dan pada saat kantuk hampir tak tertahankan, penampilan anjing air itu di batas cakrawala sering membingungkan. Banyak pelaut mengaku, binatang itu pada saat dan situasi semacam itu – sangat mirip manusia. “Bahkan sekarang pun masih ada saja laporan tentang penampakan putri duyung di berbagai bagian dunia,” tulis Fleming. Tetapi, secara umum, “kini realisme putri duyung adalah realisme yang bertahan dalam cerita rakyat, karya seni, dan cryptozoology.” Istilah terakhir ini berarti “studi tentang binatang misterius yang belum dikenal dalam ruang dan waktu.” Setidaknya, begitulah keterangan Dr. George Zug, ketua departemen zoologi vertebrata pada Museum Sejarah Alam Smithsonian. Dr. Zug tak mau menjawab ketika ditanya apakah putri duyung masuk kelompok mamalia atau ikan. Sikapnya seratus persen ilmiah. “Semuanya hanya dongengan – sebelum sesuatu yang kongkret berada di tangan kita,” katanya. “Selama itu, Anda boleh saja mengarang segala dongengan perihal putri duyung. Dan bagian yang paling menarik pada sebuah dongeng ialah waktu ia seolah-olah cerita tentang realitas.” Menurut Dr. Zug, banyak penjelasan ilmiah yang sebenarnya blsa menerangkan penampakan para putri duyung itu. Pada 1975, misalnya, majalah Nature memuat artikel mengenai distorsi udara – yang akhirnya dihubungkan dengan dongeng Skandinavia tentang duyung lelaki. Ternyata kemudian distrosi udara itu tak lain akibat tingkah laku binatang walrus. Berbagai peristiwa alam dan cuaca, seperti sudah disinggung tadi, juga bisa menimbulkan penampakan aneh-aneh. Kabut, atau uap air, bisa mempengaruhi pandangan. “Tapi bukan itu yang menjadi faktor utama hidupnya cerita mengenai putri duyung,” ujar Dr. Zug. “Yang paling penting ialah kegemaran manusia akan kisah yang luar biasa, yang tidak pernah kehilangan daya tariknya sejak dahulu.” Cerita-cerita seperti itulah yang, antara lain, menarik minat para folkloris, seperti Peter Bartis dari American Folklife Center, Library of Congress. Menurut Bartis, “dongeng putri duyung bertahan bukan karena orang mempercayamya, melainkan karena ia memberi kesempatan imajinasi berkembang.” Mungkin dongeng-dongeng itu dibutuhkan oleh perasaan ingin tahu manusia terhadap samudra. Semacam pemenuhan keinginan, atau mungkin juga hiburan yang menjanjikan sesuatu kepada orang-orang yang bakal tertimpa musibah tenggelam di laut. “Setiap orang pernah mendengar cerita duyung,” kata Bartis lebih lanjut. “Secara tradisional, baik lisan maupun visual, gambaran putri duyung muncul dalam berbagai kenyataan hidup manusia – mulai dari sekadar simbol, tattoo di lengan awak kapal, senda gurau, sampai pada cerita kartun anak-anak. Legenda duyung tak boleh mati. Ia berfungsi dalam kehidupan manusia, hampir sejak awal mula. Belum terbayangkan kapan dongeng itu bakal lenyap dari khazanah fantasi manusia.” Banyak cerita rakyat dan lagu yang mendukurg pendapat Bartis. Versi yang paling terkenal adalah stanza terakhir dari sebuah nyanyian laut Inggris: Kawin dengan Seorang Putri Duyung: Kami turunkan sekoci untuk mencarinya, untuk menemukan jenazahnya, Tetapi ketika tiba di atas, ia terkejut, serak suaranya, Wahai teman sekapal, teman seketiduran, jangan menangis untukku, Aku menikahi putri duyung di sana, di dasar laut, di segara biru.

MBM TEMPO

One Response to “Ikan Duyung”

  1. mana nama ilmiahnya /??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: